bentuk permukaan bumi

Bentuk bumi beragam sesuai dengan hamparannya sebagai berikut:

Daerah Pantai

Bentuk bumi beragam sesuai dengan hamparannya sebagai berikut:

Daerah Pantai

Daerah pantai merupakan suatu wilayah Yang secara langsung memperoleh pengaruh laut. Contoh pengaruh laut tersebut adalah peristiwa pasang surutnya air laut
Bentuk-Bentuk Daerah Pantai :
Teluk: adalah pantai yang bentuknya cekung ke dalam, atau juga bisa dikatakan menjorok ke darat. Contoh teluk di Indonesia : Teluk Bone di Sulawesi Selatan, Teluk Tomini di Sulawesi Tengah
Tanjung: adalah wilayah yang menjorok ke laut. Apabila luas tanjung sangat besar maka di sebut Semanjung.Contoh Tanjung di Indonesia :Tanjung Ujung Kulon di Banten, Tanjung Jabung di Jambi
Delta : adalah daratan yang terletak di muara sungai.Proses pembentukan delta diakibatkan oleh proses sendimentasi sungsiContoh Delta di Indonesia:Delta Sungai Mahakam di Pulau Kalimantan, Delta Sagara Anakan di Jawa Tengah

Dataran Rendah

Dataran rendah adalah daratan yang landai atau datar. Ketinggian dataran rendah biasanya kurang dari 500m dpl (diatas Permukaan Laut).
Dataran rendah biasanya digunakan untuk areal sawah.
Rawa adalah dataran rendah yang selalu terendam air, sehingga setengah berlumpur. Ini membuat rawa kurang baik untuk daerah pertanian.
Untuk areal pertanian di rawa harus dikeringkan dan dilakukan pengapuran yang bertujuan untuk meneltrakan sifat asam dari rawa
Di daerah bisa ditemukan tanaman bakau (mangrov)

Dataran Tinggi

Dataran tinggi terletak di ketinggain 500-1500m dpl, bentuknya bisa datar, bergelombang, maupun berbukit-bukit.
Plato adalah dataran tinggi luas dengan permukaan datar dan dikelilingi tebing yang curam.
Contoh Plato di Indonesia: Plato Dieng di Jawa Timur, Plato di sekitar Danau Toba.

Pegunungan

Pegunungan adalah daratan berbukit-bukit dan bergunung-gunung sehinga membentuk suatu rangkaian (sirkum). Ada dua sistem pegunungan lipatan muda di permukaan bumi sebagai berikut.
Sirkum Medetarian
Sirkum Medetarian berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa kemudian menyambung ke pegunungan Himalaya di Asia lalu memasuki Indonesia melalui Pulau Sumatra. Jalur Sirkum Medetarian di Indonesia membentang dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku. Di Indonesia Sirkum Meditarian di Indonesia terbagi menjadi dua Busur, sebagai berikut :

Busur Dalam Vulkanik
Busur dalam dari rangkaian Meditarian bersifat vulkanis. Yang menyababkan banyak Gunung api aktif di sekitar rangkaian Sirkum Meditarian. Contoh gunungapi tersebut adalah :Gunung Kerinci, Gunung Leuseur,dan Gunung Krakatau

Busur Luar Nonvulkanik
Busur luar dari rangkaian Meditarian tidak bersifat vukanis. Busur luar sirkum Meditarian membentang di pantai barat Sumatra, seperti Pulau Simeul, Nias, Mentawai, dan Enggano, pantai selatan Jawa, dan pantai selatan Kepulauan Nusa Tenggara.

Sirkum Pasifik

Sirkum Pasifik berawal dari dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan, lalu bersambung ke pegunugan Rocky di Amerika Utara, lalu ke Jepang, Filipina, sampai akhirnya sampai ke Indonesia melalui Sulawesi. Sirkum Pasifik juga bercabang ke Pulau Halmahera dan akhirnya sampai di Papua.

pendapat : ketahuilah bahwa bentuk permukaan bumi tidak semulus yg kita kira tetapi terdapat benjolan-benjolan seperti dataran tinggi dan pegunungan dan memiliki cekungan seperti laut dan palung laut !!
Creator :
1.Aan fadilah
2.Achmad jayadi
3.Adha fardianto
4.Afriyatno

Asmara Memang Aneh

Secara tak terduga Pangeran yang menjadi putra marikota jatuh sakit. Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi tak seorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Raja mengadakan sayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.
Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.
Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam
Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkan penyakitnya tidak terlacak. Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya.
Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. la menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya.
Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata, “Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri.”
Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. “Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan.” perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.
Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran.
“Engkau kuundang ke sini bukan untuk bertamasya.” “Hamba tidak bermaksud berlibur Yang Mulia.” kata Abu Nawas.
“Tetapi aku belum paham.” kata Raja.
“Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang.” kata Abu Nawas. Abu Nawas pergi selama dua hari.
Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap Raja. “Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?” tanya Abu Nawas.
“Apa maksudmu?” Raja balas bertanya.
“Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini.” kata Abu Nawas menjelaskan.
“Bagaimana kau tahu?”
“Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada Baginda.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Raja.
“Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu.”
“Kalau tidak?” tawar Raja ragu-ragu.
“Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akan mati.” Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan.
Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yang amat indah.

(SELESAI)
sumber: http://www.dongengkakrico.com/kisah-abu-nawas.html

orang orang kanibal

Saat itu Abu Nawas baru saja pulang dari istana setelah dipanggil Baginda. la tidak langsung pulang ke rumah melainkan berjalan-jalan lebih dahulu ke perkampungan orang-orang badui. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Abu Nawas yang suka mempelajari adat istiadat orang-orang badui.
Pada suatu perkampungan, Abu Nawas sempat melihat sebuah rumah besar yang dari luar terdengar suara hingar bingar seperti suara kerumunan puluhan orang. Abu tertarik, ingin melihat untuk apa orang-orang badui berkumpul di sana, ternyata di rumah besar itu adalah tempat orang badui menjual bubur, haris yaitu bubur khas makanan para petani. Tapi Abu Nawas tidak segera masuk ke rumah besar itu, merasa lelah dan ingin beristirahat maka ia terus berjalan ke arah pinggiran desa.
Abu Nawas beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. la merasa hawa di situ amat sejuk dan segar sehingga tidak berapa lama kemudian mehgantuk dan tertidur di bawah pohon.
Abu Nawas tak tahu berapa lama ia tertidur, tahu-tahu ia merasa dilempar ke atas lantai tanah. Brak! lapun tergagap bangun.
“Kurang ajar! Siapa yang melemparku?” tanyanya heran sembari menengok kanan kiri.
Ternyata ia berada di sebuah ruangan pengap berjeruji besi. Seperti penjara.
“Hai keluarkan aku! Kenapa aku dipenjara di sini.!”
Tidak berapa lama kemudian muncul seorang badui bertubuh besar. Abu Nawas memperhatikan dengan seksama, ia ingat orang inilah yang menjua! bubur haris di rumah besar di tengah desa.
“Jangan teriak-teriak, cepat makan ini !” kata orang sembari menyodorkan piring ke lubang ruangan. Abu Nawas tidak segera makan. “Mengapa aku dipenjara?”
“Kau akan kami sembelih dan akan kami jadikan campuran bubur haris.”
“Hah? Jadi yang kau jual di tengah desa itu bubur manusia?”
“Tepat…. itulah makanan favorit kesukaan kami.”
“Kami…? Jadi kalian sekampung suka makan daging manusia?”
“lya, termasuk dagingmu, sebab besok pagi kau akan kami sembelih!”
“Sejak kapan kalian makan daging manusia?”
“Oh.., sejak lama …. setidaknya sebulan sekali kami makan daging manusia.”
“Dari mana saja kalian dapatkan daging manusia?”
“Kami tidak mencari ke mana-mana, hanya setiap kali ada orang masuk atau lewat di desa kami pasti kami tangkap dan akhirnya kami sembelih untuk dijadikan butjur.” Abu Nawas diam sejenak. la berpikir keras bagaimana caranya bisa meloloskan diri dari bahaya maut ini. la merasa heran, kenapa Baginda tidak mengetahui bahwa di wilayah kekuasaannya ada kanibalisme, ada manasia makan manusia.
“Barangkali para menteri hanya melaporkan hal yang baik-baik saja. Mereka tidak mau bekerja keras untuk memeriksa keadaan penduduk.” pikir Abu Nawas. “Baginda harus mengetahui hal seperti ini secara langsung, kalau perlu….!”
Setelah memberi makan berupa bubur badui itu meninggalkan Abu Nawas. Abu Nawas tentu saja tak berani makan bubur itu jangan-jangan bubur manusia. la menahan lapar semalaman tak tidur, tubuhnya yang kurus makin nampak kurus.
Esok harinya badui itu datang lagi.
“Bersiaplah sebentar lagi kau akan mati.”
Abu Nawas berkata,”Tubuhku ini kurus, kalaupun kau sembelih kau tidak akan memperoleh daging yang banyak. Kalau kau setuju nanti sore akan kubawakan temanku yang bertubuh gemuk. Dagingnya bisa kalian makan selama lima hari.”
“Benarkah?”
“Aku tidak pernah bohong!”
Orang badui itu diam sejenak, ia menatap tajam kearah Abu Nawas. Entah kenapa akhirnya orang badui itu rnempercayai dan melepaskan Abu Nawas. Abu Nawas langsung pergi ke istana menghadap Bagirida.
Setelah berbasa-basi maka Baginda bertanya kepada Abu Nawas. “Ada apa Abu Nawas? Kau datang tanpa kupanggil?”
“Ampun Tuanku, hamba barus saja pulang dari suatu desa yang aneh.”
“Desa aneh, apa keanehannya?”
“Di desa tersebut ada orang menjual bubur haris yang khas dan sangat lezat. Di samping itu hawa di desa itu benar-benar sejuk dan segar.”
“Aku ingin berkunjung ke desa itu. Pengawal! Siapkan pasukan!”
“Ampun Tuanku, jangan membawa-bawa pengawal. Tuanku harus menyamar jadi orang biasa.”
“Tapi ini demi keselamatanku sebagai seorang raja”
“Ampun Tuanku, jika bawa-bawa tentara maka orang sedesa akan ketakukan dan Tuanku takkan dapat melihat orang menjual bubur khas itu.”
“Baiklah, kapan kita berangkat?”
“Sekarang juga Tuanku, supaya nanti sore kita sudah datang di perkampungan itu.”
Demikianlah, Baginda dengan menyamar sebagai sorang biasa mengikuti Abu Nawas ke perakmpungan orang-orang badui kanibal.
Abu Nawas mengajak Baginda masuk ke rumah besar tempat orang-orang makan bubur. Di sana mereka membeli bubur.
Baginda memakan bubur itu dengan lahapnya.
“Betul katamu, bubur ini memang lezat!” kata Baginda setelah makan.”Kenapa buburmu tidak kau makan Abu Nawas.”
“Hamba masih kenyang,” kata Abu Nawas sambil melirik dan berkedip ke arah penjual bubur.
Setelah makan, Baginda diajak ke tempat pohon rindang yang hawanya sejuk.
“Betul juga katamu, di sini hawanya memang sejuk dan segar ….. ahhhhh …….. aku kok mengantuk sekali.”kata Baginda.
“Tunggu Tuanku, jangan tidur dulu….hamba pamit mau buang ari kecil di semar belukar sana.”
“Baik, pergilah Abu Nawas!”
Baru saja Abu Nawas melangkah pergi, Baginda sudah tertidur, tapi ia segera terbangun lagi ketika mendengar suara bentakan keras.
“Hai orang gendut! Cepat bangun ! Atau kau kami sembelih di tempat ini!” ternyata badui penjual bubur sudah berada di belakang Baginda dan menghunus pedang di arahkan ke leher Baginda.
“Apa-apaan ini!” protes Baginda.
“Jangan banyak cakap! Cepat jalan !”
Baginda mengikuti perintah orang badui itu dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara.
“Mengapa aku di penjara?”
“Besok kau akan kami sembelih, dagingmu kami campur dengan tepung gandum dan jaduilah bubur haris yang terkenal lezat. Hahahahaha !”
“Astaga jadi yang kumakan tadi…?”
“Betul kau telah memakan bubur kami, bubur manusia.”
“Hoekkkkk….!” Baginda mau muntah tapi tak bisa.
“Sekarang tidurlah, berdoalah, sebab besok kau akan mati.”
“Tunggu….”
“Mau apa lagi?”
“Berapa penghasilanmu sehari dari menjual bubur itu?”
“Lima puluh dirham!”
“Cuma segitu?”
“lya!”
“Aku bisa memberimu lima ratus dirham hanya dengan menjual topi.”
“Ah, masak?”
“Sekarang berikan aku bahan kain untuk membuat topi. Besok pagi boleh kail coba menjual topi buatanku itu ke pasar. Hasilya boleh kau miliki semua !”
Badui itu ragu, ia berbalik melangkah pergi. Tak lama kemudian kembali lagi dengan bahan-bahan untuk membuat topi.
Esok paginya Baginda menyerahkan sebuah topi yang bagus kepada si badui. Baginda berpesan,”Juallah topi ini kepada menteri Farhan di istana Bagdad.”
Badui itu menuruti saran Baginda.
Menteri Farhan terkejut saat melihat seorang badui datang menemuinya. “Mau apa kau?” tanya Farhan.
“Menjual topi ini…”
Farhan melirik, topi itu memang bagus. la mencoba memeriksanya dan alangkah terkejutnya ketika melihat hiasan berupa huruf-huruf yang maknanya adalah surat dari Baginda yang ditujukan kepada dirinya.
“Berapa harga topi ini?”
“Lima ratus dirham tak boleh kurang!”
“Baik aku beli !”
Badui itu langsunng pulang dengan wajah ceria. Sama sekali ia tak tahu jika Farhan telah mengutus seorang prajurit untuk mengikuti langkahnya. Siangnya prajurit itu datang lagi ke istana dengan melaporkan lokasi perkampungan si penjual bubur.
Farhan cepat bertidak sesuai pesan di surat Baginda. Seribu orang tentara bersenjata lengkap dibawa ke perkampungan. Semua orang badui di kampung itu ditangkapi sementara Baginda berhasil diselamatkan.
“Untung kau bertindak cepat, terlambat sedikit saja aku sudah jadi bubur!” kata Baginda kepada Farhan.
“Semua ini gara-gara Abu Nawas!” kata Farhan.
“Benar! Tapi juga salahmu! Kau tak pernah memeriksa perkampungan ini bahwa penghuninya adalah orang-orang kanibal!”
“Bagaimanapun Abu Nawas harus dihukum!”
“Ya, itu pasti!”
“Hukuman mati!” sahut Farhan.
“Hukuman mati? Ya, kita coba apakah dia bisa meloloskan diri?” sahut Baginda.

(SELESAI)

RAJA DIJADIKAN BUDAK

Kadangkala untuk menunjukkan sesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya dengan mata kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup sengsara. Ada saja praktek jual beli budak.
Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjuai Baginda Raja. Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untuk dijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu miempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang giliran
Abu Nawas mengerjai Baginda Raja.
Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid.
“Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia.”
“Apa itu wahai Abu Nawas?” tanya Baginda langsung tertarik.
“Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas meyakinkan.
“Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya.” kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Tetapi Baginda … ” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tetapi apa?” tanya Baginda tidak sabar.
“Bila Baginda tidak menyamarsebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu.” kata Abu Nawas.
Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.
Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al Rasyid berangkat menuju ke sebuah hutan.
Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjuai budak. Abjj Nawas mengajak pedagang budak itu untuk mettrtat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tega menjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yang
menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu.
Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di situ ketika pedagang budak menghampirinya. la belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkan batang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain di situ.
“Siapa engkau?” tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.
“Aku adalah tuanmu sekarang.” kata pedagang budak itu agak kasar.
Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana.
“Apa maksud perkataanmu tadi?” tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam.
“Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya.” kata pedagang budak dengan kasar.
“Abu Nawas menjual diriku kepadamu?” kata Baginda makin murka.
“Ya!” bentak pedagang budak.
“Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya Baginda geram.
“Tidak dan itu tidak perlu.” kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu.
Begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya.
“Ayo kerjakan!”
Sultan Harun Al Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh.
“Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali !”
Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si badui.
“Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga.” gumam Sultan Harun Al Rasyid.
Si badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lamalama menjadi marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh.
“Hai badui! Cukup semua ini aku tak tahan.”
“Kurang ajar kau budakku harus patuh kepadaku!” kata badui itu sembari memukul baginda. Tentu saja raja yang tak pernah disentuh orang iki menjerit keras saat dipukul kayu.
“Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid.” kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya.
Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja.
la pun langsung menjatuhkan diri sembari menyembah Baginda Raja. Baginda Raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.

(SELESAI)

blurry eyes

tooku no kaze wo mi ni matou anata ni wa
todokanai kotoba narabete mite mo
mata shisen wa dokoka mado no mukou

kawaranai yokan wa tsuzuiteiru
ano hibi sae kumotte…

kago no naka no tori no you na utsuro na me ni
fureteiru gogo no hizashi wa maru de
anata wo soto e sasou hikari

kawaranai yokan wa tsuzuiteiru
ano hibi sae kumotte shimau

meguri kuru toki ni yakusoku wa ubaware sou
kono ryoute sashi nobete mo kokoro wa hanarete

Why do you stare at the sky
with your blurry eyes?

meguri kuru toki ni yakusoku wa ubaware sou
kono ryoute sashi nobete mo kokoro wa hanarete

meguri kuru toki ni taisetsu na hito wa mou…
furi muita sono hitomi ni chiisana tameiki

Your blurry eyes… your blurry eyes
Your blurry eyes… kokoro wa
Your blurry eyes… hanarete
Your blurry eyes… yuku

BLESS – L’Arc~en~ciel

kimi he to yume wa ima

tooi chiheisen he mukai yasashii ude kara
zutto kakete ki ta n da ne
saisho wa chiisai hohaba de

hitotsu hitotsu fu o susume
furimukeba nagai ashiato
igandete mo massugu
You have come a long way
Everything is for today

kimi he to yume wa ima me no mae de kiramei teru
hanabira no mai furu you na yuki ga shukufuku shi ta
hanabanashii kisetsu mo yokome ni sugisari
tameiki shiroku tsui te
mayottari mo shi takedo

shinto haritsumeta fuukei
kodou wa kou nari o oboe
afureru omoi wa kono shunkan o mukaeru
Everything is for today

sora he to kane no oto ga toki o tsuge narihibiku yo
tsubasa hiroge tobitatte yuku kimi ni shukufuku are
omoi o nose kimi wa kon daichi o keru
kokoro hitotsu yorokobi mo kanashimi mo zenbu tsumekonde

kimi he to yume wa ima me no mae de kiramei teru
hanabira no mai furu you na yuki ga shukufuku shi ta

Mengenal Muslim dan Masjid di Jepang

Selama musim panas empat tahun terakhir ini, saya berkesempatan tinggal di Osaka, Jepang, selama sekurang-kurangnya satu bulan. Kegiatan utamanya adalah penelitian di bidang teknik fisika di kampus Suita, Universitas Osaka, Jepang. Di luar kesibukan di laboratorium rancang bangun materi komputasional, saya gunakan untuk mengikuti sejumlah kegiatan keislaman untuk mengenal aktivitas umat Islam di sekitar Osaka dan Kobe. Memang saya tidak sempat melakukan pengamatan mendalam mengenai hal ini karena keterbatasan waktu. Oleh karena itu, tulisan ini juga hanya bersifat pengamatan sekilas.

Saya beruntung mempunyai kegiatan di Jepang yang dilakukan di kampus yang mempunyai masjid di dalamnya. Dengan demikian, shalat berjamaah di awal waktu selama berada di kampus, menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Masjid di kampus Suita Universitas Osaka memang hanya berupa suatu ruangan. Namun ruangan ini didedikasikan untuk kegiatan shalat. Dengan demikian, segala yang diperlukan untuk shalat, telah tersedia, seperti tempat berwudhu, karpet shalat, dan Aquran serta kompilasi hadist Rasul. Shalat dzuhur merupakan shalat berjamaah yang paling penuh jamaahnya. Sebagian besar merupakan mahasiswa non-Jepang. Tidak ada imam tetap. Imamnya adalah mereka yang dianggap paling senior atau bergantian di antara jamaah tetap shalat berjamaah.

Selain shalat berjamaah dzuhur sampai isya, kegiatan rutin di masjid kampus Suita adalah membaca hadist Rasul. Kegiatan ini diselenggarakan setiap hari dan dilakukan setelah shalat asar berjamaah. Umumnya, hadist dibaca oleh imam shalat atau oleh kawan-kawan dari Timur Tengah yang fasih berbahasa Arab. Shahih Bukhari – Muslim yang digunakan dan dibaca dari halaman pertama dan berurutan, tidak ada yang terlewatkan. Hadist hanya dibaca saja, baik teks asli maupun terjemah bahasa Inggrisnya serta tidak ada diskusi. Begitu pembacaan selesai, umumnya jamaah langsung bubar dan kembali ke laboratorium atau kelas masing-masing.

Pada umumnya jamaah shalat, sangat sedikit yang tidak berjamaah. Oleh karena itu, masjid ramai hanya menjelang dan seusai shalat berjamaah. Di luar waktu itu, masjid kosong. Bahkan jalanan di kampus pun kosong. Kebanyakan kegiatan berpusat kembali di laboratorium atau kelas.

Kira-kira 4 Km dari kampus, ada sebuah masjid di tengah-tengah perumahan penduduk. Masjid ini sekaligus menjadi pusat kegiatan umat Islam di Osaka, khususnya di wilayah Suita. Bangunannya semula adalah rumah tinggal yang kemudian dibeli oleh komunitas Muslim di sana dan diubah menjadi masjid. Di sini shalat lima waktu ditegakkan, termasuk shalat subuh. Kegiatan pengajian juga diselenggarakan secara rutin. Masjid ini relatif baru.

Satu jam dari kampus Universitas Osaka dengan menggunakan kereta, terdapat masjid Kobe yang terletak di kota Kobe. Masjid Kobe yang telah berdiri sejak tahun 1930-an terbilang unik. Di samping telah berusia relatif tua, masjid ini juga merekam peristiwa dahsyat pemboman sekutu pada perang dunia kedua. Terekam dalam foto spektakuler mengenai kehancuran seluruh kota Kobe, kecuali masjid ini. Seluruh bangunan di sekitar masjid luluh lantak oleh pemboman sekutu. Namun sungguh ajaib, masjid Kobe ini masih utuh, tegak di tengah-tengah reruntuhan.

Masjid Kobe yang bersejarah itu mempunyai kegiatan keagamaan yang rutin dan terstruktur. Kegiatan pendidikan untuk anak-anak dan keluarga muslim di sekitar Kobe dan Osaka, diselenggarakan pada hari Sabtu dan Ahad. Masjid ini mempunyai imam tetap dan sudah barang tentu menyelenggarakan shalat wajib berjamaah yang lima waktu. Bangunannya khas masjid, lengkap dengan menara dan kubah, sehingga mudah dikenali. Terletak di wilayah pusat kota Kobe, sehingga relatif mudah dicapai, hanya beberapa ratus meter dari setasiun kereta api

ISLAM DI JEPANG

Islam di Jepang biasanya dianut oleh orang Turki, Arab, Melayu, dan Indonesia yang pendidikan/bekerja di Jepang. Islam dalam bahasa Jepang adalah イスラム教 (bahasa Jepang: isuramukyou)

Antara 1877 dan Perang Dunia II
Hubungan Islam dengan Jepang ini masih terbilang belia jika dibandingkan hubungan agama ini dengan negara-negara yang lain di seluruh dunia.
Tidak terdapat sebuah hitungan yang nyata tentang hubungan-hubungan antara agama Islam dengan Jepang atau cerita sejarah tentang Islam di Jepang melalui penyebaran agama, kecuali beberapa hubungan tersembunyi antara penduduk-penduduk Jepang dengan orang-orang Muslim dari negara lain sebelum tahun 1868.
Agama Islam diketahui untuk pertama kali oleh penduduk Jepang pada tahun 1877 sebagai sebagian pemikiran agama barat dan pada sekitar tahun itu, kehidupan Nabi Muhammad diterjemahkan dalam Bahasa Jepang. Ini membantu agama Islam menempatkan diri dalam pemikiran intelek orang Jepang, tapi hanya sebagai satu pengetahuan dan pemikiran.
Lagi satu hubungan yang penting dibuat pada tahun 1890 ketika Turki Usmaniyah mengirim utusan yang menumpang sebuah kapal yang dinamakan “Ertugrul” ke Jepang untuk tujuan menjalin hubungan diplomatik antara kedua negara serta untuk saling memperkenalkan orang Muslim dan orang Jepang. Kapal itu yang membawa 609 orang penumpang dalam pelayaran pulang ke negara mereka tenggelam dengan 540 penumpang tewas.
Dua orang Jepun Muslim pertama yang diketahui ialah Mitsutaro Takaoka yang memeluk Islam pada tahun 1909 dan mengambil nama Omar Yamaoka setelah menunaikan haji di Mekah, serta Bumpachiro Ariga yang pada masa yang lebih kurang sama telah pergi ke India untuk berdagang dan kemudian memeluk Islam di bawah pengaruh orang-orang Muslim di sana serta mengambil nama Ahmad Ariga. Bagaimanapun, kajian-kajian ini telah membuktikan bahwa seorang Jepang yang dikenali sebagai Torajiro Yamada mungkin merupakan orang Jepang Muslim yang pertama ketika ia melawat negara Turki disebabkan turut berduka cita dengan korban tewas dalam kecelakaan maut Ertugrul. Beliau mengambil nama Abdul Khalil dan mungkin pergi ke Mekah untuk naik haji.
Bagaimana pun, kehidupan komunitas Muslim yang benar tidak bermula sehingga beratus-ratus pelarian Muslim Turki, Uzbekistan, Tajikistan, Kirghizstan, Kazakhstan dan Tatar Turki yang lain dari Asia Tengah dan Rusia, pengaruh Revolusi Bolshevik semasa Perang Dunia I. Orang-orang Muslim ini yang diberikan perlindungan di Jepang menetap di beberapa pelabuhan utama di sekitar Jepang dan mendirikan komunitas-komunitas Islam. Segelintir orang Jepang memeluk Islam melalui hubungan mereka dengan orang-orang Muslim ini.
Dengan pembentukan komunitas-komunitas Muslim ini, beberapa buah masjid telah didirikan. Yang paling penting antaranya ialah Masjid Kobe yang didirikan pada tahun 1935 dan Masjid Tokyo yang didirikan pada tahun 1938. Bagaimanapun, orang Jepang Muslim tidak mengambil bagian tentang pengelolaan masjid-masjid ini dan tidak terdapat sebagian orang Jepang yang pernah menjadi Imam.
[sunting]Setelah Perang Dunia II

Gerbang muka Mesjid Kobe.
Saat Perang Dunia II, satu “Ledakan Islam” telah dimulai oleh kelompok tentara di Jepang melalui pendirian pusat-pusat penyelidikan untuk mengkaji Islam dan Dunia Muslim. Telah dikatakan bahwa pada waktu itu, melebihi 100 buah buku dan jurnal mengenai Islam telah diterbitkan di Jepang. Bagaimanapun, Pusat-pusat penyelidikan ini sama sekali tidak diketuai atau diurus oleh orang-orang Muslim dan tujuannya bukan untuk penyebaran Islam. Tujuan yang sebenarnya adalah untuk menambah wawasan tentara dengan pengetahuan yang diperlukan mengenai Islam dan orang Muslim karena terdapat komunitas-komunitas Muslim yang besar di kawasan-kawasan yang diduduki oleh angkatan tentara Jepang di negara RRC dan negara-negaraAsia Tenggara. Oleh itu, dengan berakhirnya perang pada tahun 1945, pusat-pusat penyelidikan ini menghilang sama sekali.
Ada lagi satu “Ledakan Islam”, kali ini selepas krisis minyak 1973. Media massa Jepang telah memberi penerbitan yang besar tentang Dunia Muslim, dan khususnya kepada Dunia Arab, selepas menyadari kepentingan negara-negara ini terhadap ekonomi Jepang. Dengan penerbitan ini, banyak orang Jepang yang tidak mempunyai secuil pengetahuan tentang Islam mempunyai peluang untuk melihat rukun Islam ke-5, Haji di Mekah serta untuk mendengar panggilan Azan (panggilan Islam untuk salat) dan pembacaan Al-Quran. Selain daripada banyak orang Jepang yang memeluk Islam secara terang-terangan ketika itu, terdapat juga banyak upacara Islamisasi ramai-ramai yang terdiri daripada berpuluh-puluh ribu orang. Bagaimanapun, selepas krisis minyak selesai, kebanyakan pemeluk Islam meninggalkan agama itu.
Orang-orang Turki merupakan komunitas Muslim yang terbesar di Jepang sehingga akhir-akhir ini. Pilot-pilot Jepang yang pergi ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia sebagai tentara semasa Perang Dunia II diajarkan/diajak mengungkapkan “La ilaha illa Allah” ketika pesawat-pesawat mereka ditembak jatuh di kawasan-kawasan ini supaya mereka tidak dibunuh. Sebuah pesawat Jepang telah dikatakan ditembak jatuh dan pilotnya diamankan oleh penduduk setempat. Apabila pilot itu mengucap kata-kata “ajaib” itu, ia terasa terharu ketika penduduk-penduduk itu berubah sikap terhadapnya, dan memperlakukannya dengan baik.
[sunting]Persatuan Muslim Jepang
Serangan Jepang terhadap China dan negara-negara Asia Tenggara semasa Perang Dunia II menghasilkan hubungan-hubungan antara orang-orang Jepang dengan orang-orang Muslim. Mereka yang memeluk agama Islam melalui hubungan-hubungan itu kemudian mengasaskan Persatuan Jepun Muslim di bawah pimpinan Allahyarham Sadiq Imaizumi pada tahun 1953. Persatuan tersebut ialah organisasi Jepang Muslim yang pertama.
Ketua kedua persatuan ini ialah Allahyarham Umar Mita. Mita merupakan orang Islam yang tipikal bagi generasi tuanya yang mempelajari Islam di wilayah-wilayah yang diduduki oleh Kekaisaran Jepang. Melalui hubungan-hubungannya dengan orang-orang Cina Muslim, beliau memeluk Islam di Beijing. Saat Mita kembali ke Jepang selepas perang, beliau menunaikan haji, dan merupakan orang Jepang pertama sesudah peperangan untuk berbuat demikian. Mita juga membuat terjemah Al-Quran bahasa Jepang untuk pertama kali. Oleh itu, hanya selepas Perang Dunia II baru terdapat sebuah komunitas di Jepang.
[sunting]Orang Jepang Muslim
Tidak terdapat sensus yang bisa dilihat tentang bilangan orang Jepang Muslim di Jepang. Sebagian orang menyatakan bahwa bilangannya hanya dalam beberapa ratus. Ketika ditanya, Abu Bakr Morimoto manjawab, “Berbicara jujur, hanya seribu. Dalam pengertiannya yang paling umum, jika kita memasukkan mereka yang memeluk Islam tetapi tidak mengamalkan agama ini, umpamanya hanya untuk perkawinan, bilangannya mungkin dalam beberapa ribu.”.
Tetapi terdapat juga kelemahan dari segi orang-orang Islam Jepang sendiri juga. Terdapat perbedaan orientasi antara generasi yang tua dengan generasi yang baru. Bagi generasi yang tua, Islam disamakan dengan orang Islam Malaysia, Indonesia, China, dan sebagainya. Tetapi bagi generasi baru, negara-negara Asia Tenggara tidak begitu menarik hati disebabkan orientasi barat mereka dan oleh itu, mereka lebih dipengaruhi oleh Islam di negara-negara Arab.
Ketika melawat negara-negara Muslim, kata-kata bahwa orang-orang Muslim Jepang adalah kumpulan agama minoritas sering menimbulkan masalah daripada para hadirin, “Berapakah jumlah orang Muslim di Jepang?” Jawaban ketika ini: “Satu daripada seratus ribu.”
[sunting]Dakwah di Jepang
Statistik menunjukkan bahwa di sekitar 80% daripada jumlah penduduk Jepang adalah penganut Buddha atau Shinto, sedangkan hanya 0,095% atau hanya berjumlah 121.062 orang. Bilangan pendakwah yang berpotensi dalam komunitas Muslim di Jepang adalah amat kecil, dan terdiri daripada para pelajar dan berbagai jenis pekerjaan yang bertumpu di kota besar seperti Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka dan Tokyo.
Terdapat keperluan yang lanjut untuk orang-orang Muslim bertahan daripada tekanan-tekanan dan godaan-godaan gaya hidup modern yang lebih gairah. Orang-orang Muslim juga menghadapi kesusahan terhadap komunikasi, perumahan, pendidikan anak, makanan halal, serta kesusasteraan Islam, dan semua ini menghalang kegiatan-kegiatan dakwah di Jepang.
Tanggapan salah terhadap ajaran Islam yang diperkenalkan oleh media-media barat perlu dibetulkan dengan cara yang lebih cekap dan yang mengambil kira ciri penting masyarakat Jepang sebagai salah satu negara yang paling tidak buta huruf di dunia. Bagaimanapun, disebabkan persebaran orang Muslim yang amat sedikit, terjemah Alquran dalam bahasa Jepang juga tidak mudah didapati. Hampir tidak adanya kesusasteraan Islam di dalam toko-toko buku atau perpustakaan-perpustakaan umum, kecuali beberapa esai dan buku dalam bahasa Inggris yang dijual pada harga yang agak mahal.
Oleh itu, tidaklah mengejutkan untuk mendapati bahwa pengetahuan orang Jepang yang biasa tentang agama Islam hanya dihadapkan kepada beberapa istilah yang berkaitan dengan poligami, Sunni dan Syiah, Ramadhan, Haji, Nabi Muhammad, dan Allah. Dengan kesan-kesan yang semakin terang tentang kesadaran kewajiban komunitas-komunitas Islam serta penilaian yang rasional, Umat Muslim telah menunjukkan tanggungan yang lebih kuat terhadap pelaksanaan kegiatan-kegiatan dakwah dengan cara yang lebih teratur.
[sunting]Rujukan
Islam in Japan: It’s past, present and future. Islamic Centre Japan, 1980.
Arabia, Jilid 5, No. 54. Februari 1986/Jamad al-Awal 1406.

Sejarah Jepang


Awal Mula Terjadinya Jepang
Jepang kini sudah dikenal masyarakat dunia bukan lagi sebagai negara berkembang melainkan sebagai negara maju.. Hal ini dibuktikan dengan merajalelanya produk-produk yang beredar dengan lebel Negara Matahari Terbit tersebut. Seperti konsumsi (rumah makan), barang elektronik, transportasi, pakaian, dan bahan baku lainnya bahkan atom & nuklir.
Jepang sendiri adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia. Namun Jepang sudah mampu mengalahkan negara-negara Asia lainnya. Luas negara Jepang sendiri adalah + 378.000km2 (ada pula yang menyebutkan hanya 370.000 km2). Itu berarti hanya 1/25 (seper dua puluh lima) dari negara Amerika. Bahkan cenderung lebih kecil dari Kalifornia.
Berdasarkan keadaan geografis dan sejarahnya, Jepang dibagi menjadi sembilan kawasan dari 47 prefektur. Kesembilan wilayah tersebut adalah Hokkaido, Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki, Chugoku, Shikoku, Kyushu, dan Okinawa. Sedang empat pulau utamanya adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu.
Selain dikenal sebagai product monster, Jepang juga dikenal sebagai negara misteri karena penuh tanda tanya dan sejarah. Mulai dari agama, bahasa, kebudayaan, penduduk, hingga awal terjadinya kepulauannya. Jika Amerika ditemukan oleh Colombus?, maka tidak begitu dengan Jepang.
Awal terjadinya kepulauan Jepang dimulai pada masa Palaozoic. Kala itu Jepang masih merupakan dasar lautan. Setelah memasuki masa Mesozoic, dasar lautan yang dimaksud mengalami perubahan dan membentuk daratan yang menyambung dengan Asia. Namun, pada akhir periode III masa Cenozoik, daratan tersebut kembali ke dasar laut.
Pada periode IV masa Deluvium, dasar laut tersebut timbul kembali dan sekali lagi menyatu dengan Asia. Setelah mengalami banyak perubahan alam dan cuaca, pada zaman es ke-3 (Dilivium), daratan yang menyatu dengan Asia ini berangsur-angsur mengalami penurunan dan membentuk kepulauan Jepang seperti sekarang ini.
Jepang yang memiliki ¾ kawasan pegunungan atau + 70% dari keseluruhan daratan memiliki empat musim yang berbeda. Empat musim tersebut adalah musim semi/haru (Maret – Mei), panas/natsu (Juni – Agustus), dingin/fuyu (September – Nopember), gugur/aki (Desember – Februari). Meski perubahan-perubahan iklim & cuaca sangat dinantikan masyarakat Jepang, ternyata Jepang sangat rawan terjadi gempa bumi dan bencana alam akibat letak geografisnya yang dipenuhi dengan pegunungan dan bukit-bukit.
Penghuni Jepang sendiri berasal dari beberapa negara yang bersinggah dan melakukan jual beli. Banyak pihak yang berpendapat berbeda akan hal ini. Masyarakat awam cenderung beranggapan bahwa suku Ainu lah sebagai penduduk pertama Jepang. Namun, pendapat tersebut belum dapat dibenarkan. Pendapat lain juga menyebutkan bahwa penduduk asli atau nenek moyang Jepang adalah yang memiliki kebudayaan Jōmon. Hal ini dikarenakan telah ditemukannya fosil dari hasil kebudayaan Jōmon. Ada pendapat lain yang menyebutkan, dan terkenal dengan sebutan Teori Selatan-Utara bahwa nenek moyang Jepang yang asli berasal dari daratan Asia yang tinggal dan menamakan dirinya sebagai Kikajin yang berawal pada jaman Yayoi.
Teori Selatan menyebutkan bahwa nenek moyang Jepang berasal dari Asia Tenggara seperti Tibet, Taiwan, Kepulauan Pasifik Barat Daya, Melayu, dan bahkan Indonesia. Teori ini dapat dibenarkan dengan adanya penemuan tentang cara bercocok tanam yang dilakukan oleh nenek moyangnya dengan cara membuat sawah.
Teori Utara menyebutkan lain. Di sini disebutkan bahwa nenek moyang Jepang berasal dari pusat daratan Asia seperti Mongol, Manchuria, Siberia, dan Turki. Teori juga dapat dibenarkan karena tata bahasa yang digunakan dalam keseharian msyarakat Jepang sesuai dengan susunan bahasa Korea, Ural, Turki, dan sebagainya.

Zaman di Jepang
Pada dasarnya, Jepang memiliki banyak jaman sesuai dengan perubahan masa dan kekuasaan. Namun, secara garis besar Jepang dibagi menjadi 5 periode. Periode tersebut meliputi

  1. Abad kuno atau disebut dengan ‘Kodai’. Periode ini meliputi zaman primitif / Genshi Jidai (abad ke-3), zaman Yamato (592), zaman Nara (710), dan zaman Hei An (794-1192)
  2. Abad pertengahan atau disebut dengan ‘Chuusei’ yang meliputi zaman Kamakura (1192-1333), zaman Muromachi (1334-1573), dan zaman Azuchi Momoyama (1573-1603)
  3. Abad pra modern atau ‘Kinsei’ yang dimulai dengan zaman Edo (1603-1868)
  4. Abad modern atau ’Kindai’. Pada periode Jepang banyak mengalami perubahan dan mulai dikenal dunia luar. Zaman yan sering dibicarakan ini dikenal dengan zaman Meiji (1868-1912)
  5. Dewasa ini atau lebih dikenal dengan ‘Gendai’. Periode ini meliputi zaman Taisho (1912-1926), zaman Showa (1926-1991), dan zaman Heisei (1991-sekarang?)

Dalam perputaran tiap zaman, Jepang juga mengalami perubahan kebudayaan. Namun, perubahan yang paling besar (meliputi social dan politik) adalah saat terjadinya ‘Restorasi Meiji’. Pada saat itu, Jepang dipaksa untuk kembali membuka diri untuk negara luar.

sumber: Sejarah Jepang http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1870473-sejarah-jepang/#ixzz1ITXMBQd1

 

kokoronotomo

Anata kara kurushimi o ubaeta sono toki
Watashi nimo ikiteyuku yuuki nga waite kuru
Anata to deau made wa kodoku na sasurai-bito
Sono te no nukumori o kanji sasete

Ai wa itsumo rarabai
Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to
Watashi o yonde

Shinjiau koto sae dokoka ni wasurete
Hito wa naze su’ngita hi no shiawase oikakeru
Shisuka ni mabuta tojite kokoro no doa o hiraki
Watashi o tsukandara namida fuite

Ai wa itsumo rarabai
Anata nga yowai toki
Tada kokoro no tomo to
Watashi o yonde

Ai wa itsumo rarabai
Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to
Watashi o yonde

Ai wa itsumo rarabai
Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to
Watashi o yonde ….